Langsung ke konten utama

Memberi Kesempatan kepada Gen Y

Regenerasi dan tantangan zaman bukan sesuatu yang buruk sehingga harus ditolak. Regenerasi tidak bisa dipandang dengan kacamata kepentingan politik dinasti, atau mempertahankan kekuasaan.

Namun, regenerasi harus dipandang sebagai sebuah alternatif kepemimpinan di tengah kemajuan pesat zaman. Begitu pula dengan tantangan zaman. Hal ini menjadi konsekuensi logis di era globalisasi dan kemajuan teknologi. Dalam ranah generasi, regenerasi itu bisa kita pada peralihan era kekuasaan, dari Gen X menuju Gen Y. Pada tulisan sebelumnya, Inovatif Mulai dari Pemimpin (Poros Mahasiswa Sindo, 28/06/2017), telah saya jelaskan perihal duo generasi yang berbeda ini. Calon-calon pemimpin muda memang perlahan mulai muncul ke permukaan.

Taji dan taring mereka mulai tampak, dan mereka tak lagi sungkan untuk bersaing dengan senior-seniornya dalam kontestasi pemilu dan pilkada. Slogan-slogan perubahan menjadi daya tarik tersendiri bagi konstituen, dan itu menjadi salah satu nilai jual pemimpin muda. Tugas besar calon pemimpin muda ini ada pada ranah pola kepemimpinan, karena jika pemimpin muda masih sama saja dengan yang lama, atau “rasa”nya masih sama, tentu akan hambar untuk di kemudian hari. Dan untuk ke depannya, masyarakat tentu tidak ingin berjudi dengan memilih pemimpin yang relatif muda, karena minim pengalaman.

Pemimpin muda harus mampu memanfaatkan keunggulan-keunggulan yang ada pada mereka. Semangat mudanya, keuletan, kedinamisan, mudah bergaul, kreatif, dan mendobrak kebiasaan lama. Hal-hal sederhana, namun dengan prinsip efektif dan efisien dalam ranah kebijakan dan pelayanan menjadi langkah awal yang bisa dilakukan. Apa yang lakukan demikian, pada dasarnya sederhana untuk kategori pemimpin. Namun, akan berbeda jika kasusnya mengubah kebiasaan lama, dari berbelit-belit menjadi efektif dan efisien, terutama dalam ranah pelayanan publik.

Perubahan zaman menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi pemimpin muda, karena pemimpin-pemimpin muda tersebut cenderung lebih kreatif, serta update terhadap perkembangan teknologi. Perbedaan fundamen lainnya adalah pemimpin muda tidak begitu terkontaminasi dengan zaman-zaman lama. Sementara, misalnya para generasi lawas atau gen X, mereka telah merasakan era Orde Baru, dan telah bekerja saat Orde Baru berkuasa. Beda halnya dengan pemimpin-pemimpin muda, yang ketika itu cenderung masih study perguruan tinggi ketika Orde Baru berkuasa, sehingga watak dari pemimpin lama akan lebih konservatif, karena sedikit banyaknya akan menjadikan apa yang terjadi di zaman lalu menjadi indikator apa yang akan ia kerjakan.

Sederhananya, kebiasaan orde-orde sebelumnya, apakah itu lama atau baru telah mendarah daging. Akibatnya, kebiasaan yang top-down, membuat mereka tidak kreatif. Beda halnya dengan pemimpin muda, yang ketika Orde Baru berkuasa mereka masih mahasiswa. Akibatnya, kebiasaan-kebiasaan mendobrak pengekangan, mendobrak kebiasaan lama menjadi nilai plus generasi pemimpin muda. Mereka tidak terkontaminasi kebiasaan orde-orde sebelumnya.

Apa yang akan mereka lakukan saat era sekarang, tidak mencontoh kepada orde sebelumnya, namun lebih kreatif. Menyeimbangkan perkembangan zaman dengan kebutuhan bangsa dan negara, menjadi salah satu faktor pendukung dalam suksesi kepemimpinan bangsa ini.

Ikhsan Yosarie
Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik/Aktivis HMI
Universitas Andalas

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Senin 3 Juli 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...