Langsung ke konten utama

Inovasi dan Sebuah Keberanian

Berbicara tentang inovasi tak lepas juga dari sebuah kata, yaitu keberanian. Keberanian yang dimaksud di sini adalah keberanian untuk berubah dan menjadi berbeda, tentunya dalam konteks yang positif.

Apabila keberanian itu telah kita miliki, melakukan sebuah inovasi bukan hal yang sulit untuk dilakukan. Justru inovasi bisa menjadi hal yang sangat menarik dan menantang. Presiden Joko Widodo pernah mengatakan bahwa sekarang kita sedang bersaing dengan bangsa lain. Karena itu, kita harus bersatu, terbuka, dan berani berinovasi agar bisa menjadi bangsa pemenang. Salah satu poin yang disampaikan oleh beliau adalah tentang pentingnya berinovasi.

Bisa kita lihat bagaimana negara-negara maju yang banyak melakukan inovasi, salah satunya Korea Selatan. Korea Selatan banyak melakukan inovasi dalam bidang ekonomi dan dinobatkan sebagai negara ekonomi paling inovatif di dunia versi Bloomberg. Keberanian Korea Selatan dalam melakukan inovasi bisa menjadi contoh yang bagus bagi Indonesia. Inovasi bisa dilakukan dalam bidang apa pun, tidak terbatas pada bidang ekonomi saja. Misalkan dalam bidang pemerintahan yang sekarang mulai beralih ke e-government sehingga pelayanan publik kini menjadi lebih mudah diakses.

Dalam bidang pendidikan juga bisa dilakukan sebuah inovasi untuk membuat kurikulum yang tepat sehingga menghasilkan peserta didik yang kompeten. Bahkan dalam bidang transportasi publik, pun muncul inovasi-inovasi seperti taksi dan ojek berbasis daring. Sejalan dengan dilakukannya tindakan inovatif tersebut, sistem lama akan tergantikan dengan yang baru. Nah, di sinilah tantangan yang membutuhkan sebuah keberanian untuk menghadapinya.

Tantangan yang hadir saat inovasi dilakukan adalah pembentukan sistem baru. Di sini setiap orang harus meninggalkan kebiasaan lamanya dan beradaptasi dengan sistem yang baru. Kemungkinan akan muncul resistensi cukup besar, contohnya seperti kasus ojek dan taksi berbasis daring yang ditentang oleh taksi dan ojek konvensional. Hal ini dapat menjadi pembelajaran, bahwa inovasi memungkinkan terjadinya hal-hal seperti ini. Namun, hal ini dapat dicegah apabila dibarengi dengan adanya inovasi dalam bidang regulasi hukum yang berlaku untuk mengatur keadaan tersebut.

Artinya, inovasi lebih baik apabila dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan banyak pihak. Harapannya, masyarakat Indonesia bisa memiliki pemikiran yang terbuka sehingga mampu melihat sisi positif dari inovasi. Selain itu, yang terpenting adalah sebuah keberanian yang mutlak harus dimiliki oleh pelaku inovasi itu sendiri. Siap tidak siap, suka tidak suka, Indonesia harus mengejar negara-negara lain yang sudah maju agar tidak tertinggal.

Inovasi menjadi kunci untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Semoga para pemimpin negara ini bisa fokus untuk melakukan banyak inovasi dan perubahan ke arah yang positif. Jangan sampai kalah dengan bangsa lain, karena bangsa kita adalah bangsa yang besar dengan jumlah SDM yang melimpah, wilayah yang luas dan kaya akan hasil alam. Jadi, tidak ada lagi alasan Indonesia ”tertinggal” dengan negara lain.

Restu Bagus Riyanto
Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Kamis 6 Juli 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Pendidikan Berorientasi Lingkungan

Baru-baru ini, Jenna Jambeck, profesor teknik lingkungan dari University of Georgia, AS, mengemukakan bahwa Indonesia menjadi negara peringkat dua dunia dalam pencemaran pembuangan sampah plastik ke laut dengan jumlah 187,2 juta ton. Sedangkan Tiongkok di posisi teratas dengan 262,9 juta ton sampah plastik. Karena itu, tidak mengherankan jika sampah menjadi salah satu penyebab bencana di negeri ini. Banjir, pencemaran lingkungan, dan timbunan longsor adalah sederet persoalan klasik yang diakibatkan sampah. Karena itu, tindakan preventif sangatlah dibutuhkan agar kita tidak lelah dalam membenahi beragam persoalan yang diakibatkan sampah. Tindakan-tindakan yang selama ini sering kali dilakukan hanyalah upaya berfokus jangka pendek. Tindakan yang bisa dianalogikan dengan pepatah ”gali lubang, tutup lubang” dan dilakukan berulang bagaikan tiada arti. Memang memitigasi banjir dengan perbaikan drainase dan menambah kedalaman sungai wajib menjadi prioritas mengatasi banjir ya...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...