Langsung ke konten utama

Semangat Ramadan dan Hubungan Persaudaraan

Ramadan hendaknya dijadikan ajang silaturahmi bagi setiap manusia, terutama yang beragama Islam. Untuk itu diperlukan untuk menjalin hubungan sosial yang baik, di antaranya dengan berkunjung ke rumah tetangga dan sanak saudara.

Di samping itu ajang Ramadan digunakan untuk melakukan hal yang positif seperti tadarus, iktikaf, bagi-bagi takjil, sahur on the road. Hal demikian dapat membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan, terutama yang berekonomi rendah. Dengan datangnya bulan suci Ramadan, kesempatan bagi seluruh muslim khususnya di Indonesia untuk meningkatkan ketakwaan dan ketauhidannya.

Setiap muslim dituntut tidak hanya menahan rasa haus dan lapar, tetapi mesti juga menjaga diri dari hal-hal yang membuat pahala kita berkurang. Sebagai muslim selayaknya kita tidak melewatkan bulan suci Ramadan dengan bermalas-malasan karena Rasulullah pun tidak membenarkan itu, bahkan Rasul pernah berjihad saat bulan Ramadan. Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin di mana setiap manusia diperbolehkan memeluk Islam karena dapat memberikan keberkahan kelak, baik di dunia maupun di akhirat.

Dengan demikian sudah seharusnya kita sebagai umat Islam hidup rukun berdampingan, begitu pun bagi pemeluk agama lain serta perlu adanya suatu interaksi yang nantinya mengarah pada kedamaian antarumat beragama. Umat Islam di Indonesia merupakan muslim terbanyak dunia, tetapi prinsip-prinsip serta kaidah Islam mulai terasa luntur. Itu disebabkan beberapa faktor yang memengaruhinya, terutama dalam hal yang banyak mudaratnya (kurang bermanfaat). Sikap seperti itu harus ditinggalkan/dijauhkan karena Islam merupakan obat penawar dari segala perbuatan, terutama perbuatan yang baik.

Pada bulan yang suci ini aktivitas kita mesti lebih ditekankan pada kegiatan yang berguna. Misalnya ketika istirahat bekerja bisa digunakan untuk bersalawat, membaca ayat suci Alquran, salat duha. Dalam perspektif Islam, pergaulan antarumat beragama diwujudkan dengan tidak saling memperolok, berprasangka buruk, mengadu domba, menggunjing. Menurut Jokowi, ”ukhuwah Islamiah (persaudaraan umat Islam) dapat mempererat persaudaraan serta ukhuwah wathaniyah (persaudaraan bangsa)” yang dikutip dalam rubrik Ramadan (KORAN SINDO,Rabu, 7/7).

Hal itu dapat memicu untuk menjalin hubungan yang harmonis di mana setiap elemen memiliki rasa menghormati yang tinggi satu sama lain. Selain itu kita ketahui bahwa pada setiap perayaan hari besar umat beragama sudah menunjukkan bahwa mereka hidup berdampingan serta rasa toleransi yang tinggi. Itu dapat tecermin pada perayaan Natal yang bertepatan dengan hari Jumat. Masjid Istiqlal berdekatan dengan Gereja Katedral, membantu membersihkan sampah dari aktivitas salat Id oleh nonmuslim. Itu menunjukkan kita sebagai umat beragama dapat memupuk rasa persaudaraan dengan penuh kasih sayang.

Semangat Ramadan sudah seharusnya berimplikasi positif terhadap orang lain karena selain berguna bagi diri sendiri, juga bagi lingkungan sekitarnya. Lalu setelah Ramadan usai, kita seharusnya mempertahankan nilai-nilai yang sudah dilakukan sebelumnya.

Gunawan Hadi Prastiyono
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi
Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Jakarta

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Kamis 15 Juni 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...