Langsung ke konten utama

Ramadan dan Pendewasaan Bangsa

Tak terasa pertengahan bulan Ramadan 1438 H akan kita lalui. Puasa kali ini terasa begitu istimewa karena di tengah-tengah situasi sosial-politik bangsa yang sedang memanas, bulan penuh berkah ini hadir dan kita semua wajib mengambil hikmah di baliknya.

Puasa mengajarkan zuhud dunia yang secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu sikap yang tidak terlalu cinta pada dunia, tetapi menjalani kehidupan di dunia sebagai bagian dari ibadah kepada Sang Khalik (pencipta). Kemudian selain zuhud dunia, hal yang paling penting selanjutnya adalah kedisiplinan. Puasa mendidik umat manusia untuk disiplin di dalam memanfaatkan waktu untuk berbuat kebaikan: mendekatkan diri kepada-Nya dan membantu sesama umat manusia yang masih berkekurangan.

Ramadan 1348 H kali ini sudah sepatutnya dijadikan ajang untuk pendewasaan bangsa. Dengan memaknainya sampai pada sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, bangsa yang memiliki peradaban yang besar adalah keniscayaan. Logika berpikir yang paling mengklaim diri Pancasilais adalah logika berpikir yang salah. Rezim saat ini tidak boleh memonopoli tafsir Pancasila karena itu cara yang paling efektif untuk memecah belah.

Para pemimpin kita tentu adalah elemen yang paling penting dalam introspeksi di bulan suci Ramadan kali ini tanpa menegasikan bahwa rakyat secara keseluruhan juga wajib berintrospeksi. Keterbelahan rakyat yang terjadi pada masa pra-, pada saat, dan pasca-Pilkada DKI adalah buah dari kelalaian negara dalam menjaga suhu sosial-politik di tengah-tengah masyarakat. Perbedaan yang ada adalah karunia dari Tuhan Yang Maha Esa kepada Republik Indonesia.

Sebuah ideologi yang indah, perpaduan dari ideologi-ideologi besar dunia, bahkan ideologi yang sangat Islami. Seperti kata Bung Karno bahwa dirinya bukanlah pencipta Pancasila, tetapi ”penggali Pancasila” yang merupakan pesan dari keadaan sosial politik asli Indonesia. Oleh karenanya, karena bangsa kita ini berbeda, dasarnya tidak boleh tendensius kepada satu golongan saja. Ketidakteraturan sosial akhir-akhir ini baik di dunia nyata maupun di dunia maya yang saling menebar kebencian merupakan sinyalemen bahwa bangsa kita belum dewasa.

Faktor-faktor subyektif lebih dominan ketimbang pikiran jernih di dalam memahami persoalan. Pembentukan unit Pancasila yang dilakukan Presiden Jokowi adalah langkah yang tepat untuk menjaga eksistensi Indonesia, tetapi harus dicatat, jangan bersifat politis. Intoleransi memang suatu hal yang lumrah kita dapati di sebuah negeri yang majemuk, tetapi itu bukan mustahil untuk benar-benar dihilangkan.

Umat Islam sebagai mayoritas di negara ini wajib hukumnya menerima realitas bahwa perbedaan itu tak bisa diseragamkan, maka umat Islam harus mendukung keberadaan kaum-kaum minoritas yang ada. Begitu juga kaum minoritas, wajib hukumnya menghargai dan menghormati umat mayoritas. Hidup ini indah jika antarsesama anak bangsa saling menghargai. Selepas dari Ramadan kita berharap nilai-nilai luhur yang diajarkan Islam dapat merasuk di dalam setiap aktivitas bernegara kita: menjadikan perbedaan sebagai kekuatan bukan kelemahan.

RAFYQ ALKANDY AHMAD PANJAITAN
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Kamis 8 Juni 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...