Langsung ke konten utama

Puasa, Idul Fitri, dan Semangat Rekonsiliasi

 Terlalu naif rasanya jika kita mengangkangi realitas bahwa dewasa ini persatuan di Indonesia tengah diuji.

Kebinekaan yang seharusnya dipandang sebagai anugerah justru menimbulkan percik perselisihan dan sekat-sekat sektarianisme. Dimulai dari sentimen agama dan ras tertentu menjelang Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, konflik primordial terus bergulir hingga kini menjadi panas di tataran nasional. Masyarakat terdikotomi ke dalam terminologi mayoritas dan minoritas. Permasalahan menjadi kian rumit ketika dilingkup internal umat yang beragama sama pun terjadi gejolak.

Menyusul rencana pemerintah yang disampaikan Wiranto, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, untuk membubarkan ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), umat Islam sendiri terpecah menjadi pihak pro dan kontra. Lengkap sudah kepelikan untuk menguntai kembali mozaik-mozaik bangsa menjadi satu. Di saat-saat seperti itu, umat Islam memasuki bulan suci Ramadan. Bagaikan hujan pertama setelah musim kemarau panjang, bangsa ini bak disadarkan untuk saling menahan diri sebagaimana pengertian puasa yang berarti imsak, yaitu menahan.

Membungkam hawa nafsu dan melebur angkara murka agar menjadi pribadi yang baru, bersih dari kebencian dan dendam. Melakukan introspeksi sembari bersama-sama merajut kembali tenun kebinekaan yang telah dibeli oleh para pendiri bangsa dengan harga yang sangat mahal. Momentum imsak ini menuntun kita untuk menahan ego dan merenungkan pentingnya meletakkan persatuan di atas segalanya. Terlebih Ramadan kali ini membawa hadiah istimewa bagi Indonesia berupa datangnya Hari Lahir Pancasila.

Seolah di tengah rapuhnya persatuan, Tuhan hendak mengingatkan kita untuk menahan diri dan mengingat kembali dasar negara yang telah mempersatukan berbagai suku, agama, dan ras menjadi satu bangsa besar bernama Indonesia. Jika kita berhasil menahan diri dari perpecahan dan merekonsiliasi hubungan baik antarelemen, sebagaimana janji Tuhan di ujung Ramadan, Indonesia akan memperoleh Idul Fitri. Kemenangan yang hakiki untuk mereka yang berpuasa. Kemenangan sejati bagi Indonesia sebagai sebuah bangsa yang kembali utuh.

Memulai kembali langkah sebagai satu kesatuan, menyongsong masa depan Indonesia yang lebih baik sehingga pemaknaan puasa Ramadan dan Idul Fitri dalam konteks kebangsaan jelas sangat diperlukan saat ini. Karena esensi puasa adalah menahan diri dan esensi Idul Fitri ialah saling berinisiatif untuk berdamai dan memaafkan. Retaknya persatuan yang terjadi belakangan ini memang bukan disebabkan umat Islam. Namun dengan statusnya sebagai umat mayoritas di Indonesia, Islam memegang peranan penting dan tanggung jawab yang begitu besar untuk menebarkan kedamaian dan keselamatan. Ini sejalan dengan ”salam” asal kata Islam yang dalam bahasa Arab berarti selamat.

Selamat menahan diri dan selamat kembali ke fitrah kita sebagai satu bangsa yang utuh, Indonesia.

Vyan Tashwirul Afkar
Mahasiswa Jurusan Geografi FMIPA
Universitas Indonesia


(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 13 Juni 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Pendidikan Berorientasi Lingkungan

Baru-baru ini, Jenna Jambeck, profesor teknik lingkungan dari University of Georgia, AS, mengemukakan bahwa Indonesia menjadi negara peringkat dua dunia dalam pencemaran pembuangan sampah plastik ke laut dengan jumlah 187,2 juta ton. Sedangkan Tiongkok di posisi teratas dengan 262,9 juta ton sampah plastik. Karena itu, tidak mengherankan jika sampah menjadi salah satu penyebab bencana di negeri ini. Banjir, pencemaran lingkungan, dan timbunan longsor adalah sederet persoalan klasik yang diakibatkan sampah. Karena itu, tindakan preventif sangatlah dibutuhkan agar kita tidak lelah dalam membenahi beragam persoalan yang diakibatkan sampah. Tindakan-tindakan yang selama ini sering kali dilakukan hanyalah upaya berfokus jangka pendek. Tindakan yang bisa dianalogikan dengan pepatah ”gali lubang, tutup lubang” dan dilakukan berulang bagaikan tiada arti. Memang memitigasi banjir dengan perbaikan drainase dan menambah kedalaman sungai wajib menjadi prioritas mengatasi banjir ya...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...