Langsung ke konten utama

Sarana Kembalinya Implementasi Pancasila

Indonesia sebagai negara dengan kekayaan suku, budaya, dan agama yang saling hidup berdampingan merupakan suatu kekayaan kearifan lokal yang luar biasa.

Toleransi dan persatuan merupakan kunci dari kekayaan kearifan lokal tersebut sehingga perdamaian akan selalu senantiasa mendampingi dalam situasi berbangsa dan bernegara. Tetapi, implementasi Pancasila untuk mewujudkan persatuan Indonesia kini pada titik mengkhawatirkan. Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan kunci dari segala bentuk perubahan. Perubahan yang didasarkan oleh satu Tuhan untuk mengubah hati nurani rakyat karena pada dasarnya setiap warga Indonesia diwajibkan dan dibebaskan untuk memeluk agama maupun kepercayaan yang mereka percayai.

Kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan dasar dari rakyat Indonesia untuk saling menghormati dan menghargai hak masing-masing individu. Bulan Suci ini dapat dijadikan ajang saling tolong-menolong dalam pembangunan Indonesia tanpa memandang segala perbedaan dengan masih dalam batasan norma-norma yang telah ada. Persatuan Indonesia merupakan sila yang paling krusial dan sensitif. Rakyat Indonesia dituntut untuk saling bersatu di tengah perbedaan yang signifikan sehingga diharapkan tidak terjadi perpecahan. Karena, jika hal itu terjadi, bangsa Indonesia akan mudah dipecah belah oleh ”saudaranya sendiri” maupun bangsa dari negeri lain.

Dengan kembalinya Ramadan 1348 H ini diharapkan menjadi ”mata air” bagi Indonesia untuk kembali pada Pancasila sebagai acuan untuk tetap menjaga silaturahmi antarsesama. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan merupakan gambaran dari terciptanya demokrasi di wilayah Indonesia. Demokrasi di sini bukanlah demokrasi yang sebebas-bebasnya, namun tetap pada koridor norma-norma. Rakyat memang harus bebas menggunakan haknya untuk berbicara dan menyatakan pendapat.

Tetapi, sebagian masyarakat menyalahgunakan hak tersebut dengan mengubah pernyataan kebebasan berbicara dengan mencaci maki sesama sehingga tanpa dimungkiri dapat menimbulkan gejolak di masyarakat. Maka itu, lebih baik di Bulan Suci ini kita menghentikan perbuatan mencaci maki tersebut. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan cita-cita rakyat Indonesia. Tetapi, implikasi keadaan sosial masyarakat cenderung berada pada posisi menengah ke bawah sehingga membuat ketimpangan ekonomi yang tajam saat politik kapitalis masuk secara bebas yang dengan perlahan menggeser demokrasi ekonomi yang dianut Indonesia dalam menjalankan roda perekonomiannya.

Keadaan ini membuat kecemburuan sosial yang mau tak mau meningkatkan kriminalitas di Indonesia dengan berbagai alibi untuk mengisi perut. Maka itu, momen Ramadan ini dapat menjadi ladang ibadah untuk saling berbagi dengan sesama untuk menciptakan keselarasan dan keseimbangan.

Dimas Suryaning Ayu
Mahasiswi Hukum
Universitas Sebelas Maret

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 13 Juni 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Pendidikan Berorientasi Lingkungan

Baru-baru ini, Jenna Jambeck, profesor teknik lingkungan dari University of Georgia, AS, mengemukakan bahwa Indonesia menjadi negara peringkat dua dunia dalam pencemaran pembuangan sampah plastik ke laut dengan jumlah 187,2 juta ton. Sedangkan Tiongkok di posisi teratas dengan 262,9 juta ton sampah plastik. Karena itu, tidak mengherankan jika sampah menjadi salah satu penyebab bencana di negeri ini. Banjir, pencemaran lingkungan, dan timbunan longsor adalah sederet persoalan klasik yang diakibatkan sampah. Karena itu, tindakan preventif sangatlah dibutuhkan agar kita tidak lelah dalam membenahi beragam persoalan yang diakibatkan sampah. Tindakan-tindakan yang selama ini sering kali dilakukan hanyalah upaya berfokus jangka pendek. Tindakan yang bisa dianalogikan dengan pepatah ”gali lubang, tutup lubang” dan dilakukan berulang bagaikan tiada arti. Memang memitigasi banjir dengan perbaikan drainase dan menambah kedalaman sungai wajib menjadi prioritas mengatasi banjir ya...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...