Langsung ke konten utama

Politik dan Bulan Ramadan

Kondisi perpolitikan negeri ini untuk beberapa waktu ke belakang sungguh tidak sehat. Dan kondisi demikian, semakin menahbiskan bahwa politik itu kotor, politik itu pragmatis, politik itu siapa dapat apa dan bagaimana, dan politik itu tidak kenal halal-haram.

Kita bisa melihat bagaimana fitnah bertebaran untuk menjatuhkan lawan politik, pencitraan dilakukan untuk menaikkan citra seseorang, divide et impera untuk melemahkan salah satu pihak lawan, dan pemanfaatan kekuasaan, serta menuruti hawa nafsu akan kekuasaan. Substansi politik untuk kemaslahatan bersama dengan melahirkan produk kebijakan publik pun seakan teringkari. Politik semakin jauh dari rel yang seharusnya ia lewati.

Konotasinya digunakan untuk kepentingan seseorang atau sekelompok orang saja. Dan dengan ambisinya, berupaya memperoleh segalanya. Realitas politik belakangan ini jelas jauh dari kata menahan diri, tentu orang-orang yang berpolitik yang dimaksudkan. Apa yang terjadi? Sederhana saja, dekadensi moral. Merosotnya moral, menyebabkan hawa nafsu yang tidak terkendali. Terlebih, beberapa tahun ini kita berada dalam tahun politik, karena ada penyelenggaraan pilkada.

Nah, beberapa tahun ke depan juga demikian, terutama pilpres mendatang. Kondisi-kondisi yang tidak sehat ini bisa berakibat kepada kecemasan berdemokrasi. Padahal, seharusnya kita bahagia dengan demokrasi karena itu yang kita cita-citakan dan perjuangkan pasca-Orde Baru. Namun nyatanya, kita bisa cemas lantaran tidak terkendalinya nafsu politik elite kita. Yang bisa berakibat pada disintegrasi politik bangsa ini. Pertarungan politik yang berefek terhadap kesejahteraan rakyat, sungguh tidak elok untuk kebudayaan timur kita.

Pada Ramadan ini, proses penjernihan politik layak kita upayakan. Unsur religiositas tidak bisa dikesampingkan, karena Ramadan adalah bulan yang penuh berkah dan pengampunan. Elite-elite politik sepatutnya mempelajari filosofi Ramadan ini, yaitu menahan diri dan memperoleh kemenangan dari hawa nafsu. Pengendalian hawa nafsu menjadi goal-nya nanti, sehingga berpolitik tidak lagi semata mengedepankan hawa nafsu, tetapi dengan pikiran yang jernih.

Menahan diri dan berpikir jernih patut kita biasakan saat Ramadan ini. Apalagi setelah Ramadan, umat Islam juga akan menyambut Idul Fitri. Kembali kepada kesucian, layaknya kertas putih. Perjuangan selama Ramadan akan terbayar seperti makna Idul Fitri tadi. Dalam konteks politik, Ramadan ini ibarat wasit yang mampu menghentikan perkelahian politik beberapa waktu yang lalu. Dan setelah menjadi wasit, mampu menjadi guru untuk mengajarkan arti bersabar, menahan diri, menahan hawa nafsu, dan mendinginkan pikiran.

Karantina politik bukan bermaksud menyingkirkan politik ke suatu tempat terpencil, melainkan justru untuk me-reset ulang politik yang begitu liar akhir-akhir ini. Politik untuk kesejahteraan, kemakmuran, dan keadilan rakyat sudah semestinya kita mengejawantahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan, Ramadan menjadi guru pembimbing yang tepat.

IKHSAN YOSARIE
Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik
Aktivis HMI
Universitas Andalas

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 20 Juni 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Pendidikan Berorientasi Lingkungan

Baru-baru ini, Jenna Jambeck, profesor teknik lingkungan dari University of Georgia, AS, mengemukakan bahwa Indonesia menjadi negara peringkat dua dunia dalam pencemaran pembuangan sampah plastik ke laut dengan jumlah 187,2 juta ton. Sedangkan Tiongkok di posisi teratas dengan 262,9 juta ton sampah plastik. Karena itu, tidak mengherankan jika sampah menjadi salah satu penyebab bencana di negeri ini. Banjir, pencemaran lingkungan, dan timbunan longsor adalah sederet persoalan klasik yang diakibatkan sampah. Karena itu, tindakan preventif sangatlah dibutuhkan agar kita tidak lelah dalam membenahi beragam persoalan yang diakibatkan sampah. Tindakan-tindakan yang selama ini sering kali dilakukan hanyalah upaya berfokus jangka pendek. Tindakan yang bisa dianalogikan dengan pepatah ”gali lubang, tutup lubang” dan dilakukan berulang bagaikan tiada arti. Memang memitigasi banjir dengan perbaikan drainase dan menambah kedalaman sungai wajib menjadi prioritas mengatasi banjir ya...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...