Langsung ke konten utama

Kembali Berdikari

Pada situasi global yang tengah terjadi terdapat tiga fenomena perlu diantisipasi. Ketiga fenomena itu, yakni pertama, terciptanya sebuah persaingan antarnegara di dunia, khususnya di bidang perdagangan dan industri.

Karena itu, terciptalah persaingan bebas yang memaksa tiap-tiap negara berupaya menunjukkan eksistensinya masing-masing. Kehadiran lembaga-lembaga internasional, seperti World Bank, IMF, dan WTO, juga tengah mengubah pola hubungan luar negeri antarnegara. Persaingan yang selama ini dianggap hanya hubungan kerja sama di bidang ekspor-impor, kini kian bertransformasi menjadi upaya penguasaan sumber daya negara lain. Itu sebabnya, negara-negara adidaya berupaya menjalin hubungan dengan negara dunia ke-3 (negara-negara berkembang) semata-mata untuk memperoleh keuntungan bagi negaranya sendiri.

Keikutsertaan negara-negara dunia ketiga dengan organisasi-organisasi yang “katanya menguntungkan” itu, faktanya hanyalah rayuan belaka. Negara-negara yang kuat ekonomi dan militer justru lebih mendominasi kekuasaan serta mendapatkan keuntungan melimpah di lembaga-lembaga internasional. Kedua, terciptanya ketimpangan antarkelas sosial. Terbentuk kelompok-kelompok masyarakat superior, menengah, dan terminal di tiap-tiap negara. Total utang pemerintah Indonesia hingga bulan September 2016 mengalami kenaikan dibanding dengan bulan sebelumnya sebesar Rp3.438,29 triliun.

Tercatat utang pemerintah naik Rp6,53 triliun kini menjadi Rp3.444,82 triliun. Berkaca pada peristiwa ini, tengah tercipta situasi “kurang sehat” sebab upaya pemberdayaan rakyat, nyatanya mengandalkan utang negara yang kian membukit. Ketiga, perubahan budaya akibat dampak buruk pemanfaatan teknologi menciptakan sikap apatis bagi penggunanya. Terciptanya budaya “asyik sendiri” hingga merosotnya nilai-nilai moralitas. Budaya ketimuran mulai dipandang sebelah mata.

Padahal sesungguhnya sarat makna dan penghormatan terhadap sesama. Potret buruk dari peristiwa ini dibuktikan dengan maraknya perilaku amoral. Salah satu indikatornya berdasarkan catatan tahunan Komnas Perempuan yang diluncurkan setiap tahun untuk memperingati Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret 2017 lalu. Lembaga layanan mitra Komnas Perempuan mengungkap bahwa terdapat 13.602 kasus kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan yang terjadi di ranah KDRT/RP (ranah personal) menempati peringkat pertama dengan 10.205 kasus.

Disusul kekerasan dalam berpacaran 2.171 kasus dan kekerasan terhadap anak perempuan 1.799 kasus. Berbagai persoalan ini tentu haruslah mendapatkan pembenahan serius. Karena itu, perlunya kesadaran kolektif semua pihak dalam menyikapi dampak buruk yang tengah terjadi.

Menjadi harapan tentunya agar kemajuan zaman berbanding lurus dengan kemajuan ekonomi, peningkatan nilai-nilai moral, dan semangat toleransi yang didasari konsepsi berdikari. Selain itu, memprioritaskan kebutuhan warga dengan mengandalkan potensi diri sendiri.

Yohansen W Gultom
Jurusan Ilmu Politik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Jumat 30 Juni 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...