Langsung ke konten utama

Ramadan dan Spirit Berwirausaha

Tiga pekan sudah seluruh umat muslim menjalani ibadah puasa Ramadan 1438 H. Atmosfer spiritual pun kian hari kian bergemuruh kencang, terutama memasuki 10 hari terakhir Ramadan.

Namun jika kita amati, dari tahun ke tahun ada sebuah fenomena yang selalu muncul, yaitu meningkatnya kadar konsumsi masyarakat Indonesia. Alih-alih berpuasa untuk “mengerem” konsumsi, nyatanya masyarakat kita justru semakin meningkatkan hasrat untuk mengonsumsi suatu barang. Belum lagi manuver dari produsen-produsen melalui tawaran promosi Ramadan yang semakin membuat masyarakat tergiur untuk berbelanja. Tak ayal, seolah-olah berbelanja merupakan bagian dari ibadah Ramadan itu sendiri. Namun bagi sebagian orang, fenomena tersebut dapat dijadikan sebagai peluang untuk mendulang rezeki di bulan berkah ini.

Tidak heran jika di bulan Ramadan ini banyak bermunculan wirausahawan skala mikro di tengah masyarakat kita, mulai wirausaha takjil buka puasa, parsel lebaran, kue lebaran, hingga pakaian lebaran. Perlu dicatat juga bahwa dengan berwirausaha, sebetulnya kita sudah berbuat kebaikan ke sesama manusia, dari kegiatan berwirausaha kita dapat membuka lapangan pekerjaan baru untuk orang lain, tentu ini akan memberikan multiplier effect yang positif.

Selain mendatangkan manfaat kepada diri sendiri, dengan berwirausaha, kita juga dapat mendatangkan kebermanfaatan kepada orang lain di sekitar kita. Dan juga, kita mampu berkontribusi dalam membantu pemerintah untuk mereduksi angka pengangguran di Indonesia. Kemunculan para wirausahawan mikro ini juga dapat memberikan sentilan tersendiri bagi masyarakat yang masih bersifat konsumtif dalam memenuhi kebutuhannya.

Dengan melihat banyaknya wirausahawan mikro, masyarakat yang konsumtif tadi diharapkan mampu mengubah paradigmanya dan beralih dari masyarakat konsumtif menjadi masyarakat produktif dengan jalur berwirausaha. Memang tidak mudah, seperti makna berwirausaha sendiri yang berarti berani mengambil risiko, artinya masyarakat dihadapkan pada beragam risiko yang harus ditaklukkan untuk benar-benar berani meninggalkan zona nyaman mereka dari konsumen menjadi produsen.

Pada akhirnya, datangnya Ramadan harus dijadikan sebagai poros spirit berwirausaha yang selama ini masih rendah. Hal ini terbukti dari data BPS (2017), yang menunjukkan bahwa rasio wirausaha di Indonesia sebesar 3,1%. Rasio ini terbilang masih rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia 5%, China 10%, Singapura 7%, Jepang 11%, maupun Amerika Serikat 12%. Ramadan sebagai bulan sinergitas dan perbaikan diri sudah seyogianya kita jadikan sebagai bulan pemberi spirit untuk berwirausaha.

Dengan kemunculan wirausaha mikro dari bulan Ramadan dan tetap sustaibnable di tahun-tahun berikutnya, bukan hal mustahil 10 sampai 20 tahun ke depan kita mampu mendongkrak angka rasio wirausaha mengalahkan AS. Meningkatnya rasio wirausaha diproyeksikan juga akan mampu membawa peningkatan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik lagi ke depannya. Hal itu dapat kita capai bersama jika kita sama-sama mau memandang dan memulai Ramadan sebagai bulan spirit berwirausaha.

M RIFKI FADILAH
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi
Universitas Negeri Jakarta

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Senin 19 Juni 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Pendidikan Berorientasi Lingkungan

Baru-baru ini, Jenna Jambeck, profesor teknik lingkungan dari University of Georgia, AS, mengemukakan bahwa Indonesia menjadi negara peringkat dua dunia dalam pencemaran pembuangan sampah plastik ke laut dengan jumlah 187,2 juta ton. Sedangkan Tiongkok di posisi teratas dengan 262,9 juta ton sampah plastik. Karena itu, tidak mengherankan jika sampah menjadi salah satu penyebab bencana di negeri ini. Banjir, pencemaran lingkungan, dan timbunan longsor adalah sederet persoalan klasik yang diakibatkan sampah. Karena itu, tindakan preventif sangatlah dibutuhkan agar kita tidak lelah dalam membenahi beragam persoalan yang diakibatkan sampah. Tindakan-tindakan yang selama ini sering kali dilakukan hanyalah upaya berfokus jangka pendek. Tindakan yang bisa dianalogikan dengan pepatah ”gali lubang, tutup lubang” dan dilakukan berulang bagaikan tiada arti. Memang memitigasi banjir dengan perbaikan drainase dan menambah kedalaman sungai wajib menjadi prioritas mengatasi banjir ya...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...