Langsung ke konten utama

Puasa dan Spirit Antikorupsi

Bulan penuh berkah dan ampunan, itulah Ramadan. Banyak orang yang merindukannya. Secara konsisten, masyarakat menyambut bulan ini dengan riang dan kegembiraan melalui berbagai kegiatan, dari sekadar tasyakuran hingga membuat kegiatan akbar (pawai dan sebagainya).

Dalam bulan Ramadan—yang di dalamnya umat Islam diwajibkan berpuasa—terkandung dua dimensi sekaligus: vertikal (hablumminanallah) dan horizontal (hablumminannas). Bahkan jika dimaknai secara luas, ibadah puasa memiliki sejumlah nilai penting yang selaras dengan upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good govermance), misalnya menjunjung tinggi peraturan (Rajasa, 2012). Lebih jauh lagi, spirit Ramadan sudah melampaui zaman.

Hal ini terbukti bahwa Ramadan erat kaitannya dengan melawan segala penyelewengan, misalnya korupsi. Sebagaimana yang diketahui bahwa salah satu penyebab korupsi adalah rakus (tamak). Misalnya pejabat negara, yaitu hakim. Di Indonesia, hakim digaji cukup tinggi. Akan tetapi masih ada hakim yang korupsi.

Semuanya sudah digaji rakyat atau negara. Maka untuk mengerem tindak korupsi, mau tidak mau, suka tidak suka, harus membersihkan jiwa dari berbagai penyakit seperti rakus dan sebagainya. Esensi puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang buruk, termasuk korupsi. Maka orang yang berpuasa tidak akan korupsi. Sebab syahwat korupsi sudah ditekan dan dihancurkan melalui serangkaian aktivitas spiritual.

Inilah yang kemudian, oleh Imam Alghazali, disebut sebagai penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Nilai puasa dalam spirit antikorupsi lainnya adalah attakhaluq (menghiasi dengan akhlak terpuji). Setelah berbagai cara untuk membersihkan penyakit jiwa atau hati, kemudian jiwa dan hati yang bersih itu dihiasi dengan akhlak yang terpuji. Sifat-sifat atau akhlak yang mulia itu meliputi jujur, dermawan, amanah, qanaah (sederhana), sabar, dan sebagainya.

Kalau ia menjadi figur publik, sifat merakyat dan adil serta ikhlas menjadi sifat yang harus dipraktikkan. Dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin, ia tidak semata-mata mengharapkan gaji yang besar, tetapi bagaimana mengabdi sepenuh hati kepada umat dan bangsa secara optimal dan benar. Semua sifat di atas tentu tidak mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Artinya harus ada pelatihan jiwa (riyadhatun nafs). Dalam tahapan pelatihan ini, dua hal yang harus dipegang teguh adalah istiqamah dan sabar. Jadi orang yang bisa melatih jiwa adalah orang yang sabar dan konsisten. Puasa tak lain adalah soal tanggung jawab. Ranah puasa sesungguhnya sangat intim karena yang tahu bahwa seseorang berpuasa secara baik dan benar hanyalah orang tersebut dan Allah SWT. Oleh sebab itu tanggung jawab menjadi hal yang utama.

Begitu juga dalam mengemban amanah. Tanggung jawab menjadi modal utama. Tegas kata, puasa merupakan wahana untuk melatih kita menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat bagi sesama. Puasa juga mengajarkan manajemen spiritual memberantas mental dan laku korupsi. Semoga puasa tahun ini menyadarkan kita semua, terutama para pejabat, untuk memperbaiki diri dan menjauhi segala laku yang menyimpang. Inilah, sekali lagi, spirit puasa dan antikorupsi sesungguhnya. Wallahu a'lam.

MALIHATIN NAZIYAH
Mahasiswi Fakultas Ushuluddin
UIN Walisongo Semarang

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Senin 12 Juni 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...