Langsung ke konten utama

Nilai-nilai Sosial Ramadan dan Idul Fitri

Idul Fitri menjadi simbol dari puncak kemenangan kita setelah sebulan penuh sukses menjalankan puasa Ramadan.

Karena itulah Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia, yakni, ”gotong-royong” dan Bhinneka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan, dan kesejahteraan. Namun, itu semua masih jauh dari panggang api.

Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebagai target untuk melakukan kekerasan dan penyesatan antarsesama. Ini berakibat pada nilai-nilai religius seseorang akan luntur dan mengakibatkan perpecahan antarsesama agama. Selain itu, kasus korupsi, tindakan penyelewengan yang dilakukan aparat pemerintah semakin membabi buta. Kini, politik sudah tidak dimaknai sebagai tindakan kebaikan bersama, sebagaimana yang diidealkan filsuf barat, Aristoteles.

Dalam ajaran agama Islam, puasa Ramadan dan Lebaran menjadi momen yang tepat untuk kembali pada jati diri manusia yang suci yang dalam aktivitas sosial yang telah ternodai dosa-dosa, baik itu yang bersumber dari lisan, pikiran, dan tindakan. Selain itu, Lebaran sangat tepat untuk memupuk sikap toleransi yang kini menjadikan modal kekuatan berpolitik dan berdemokrasi di negeri ini.

Masa Ramadan dan Idul Fitri kali ini supaya tak tertutup oleh isu-isu konflik dan berita arus macet mudik Lebaran. Mari kita sikapi perbedaan itu dengan bijak. Allah berfirman, ”Tidaklah manusia itu melainkan umat yang satu (sama), kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” (QS Yunus/10:19).

Ayat ini mengingatkan kepada kita semua bahwa sesungguhnya manusia itu bersatu kemudian berselisih, tapi bagaimana perselisihan itu tidak terbawa pada suatu pertikaian yang merusak persaudaraan dan kedamaian di negeri ini. Saat yang paling tepat untuk menyucikan dosa-dosa akibat hiruk-pikuk politik supaya suci kembali ialah melalui momentum Idul Fitri ini. Jika menengok makna Idul Fitri yang berarti kesucian, makna Ramadan ini supaya bisa mencapai sebuah hari Idul Fitri yang berdimensi pada kesejahteraan dan berkeadilan.

Semoga semua masyarakat Indonesia tetap menjaga persaudaraan dan persatuan masyarakat Indonesia. Semoga.

Moch Zainul Arifin
Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik
Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik
UIN Syarif Hidayatullah

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 7 Juni 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...